Kisah pengalihan ownership sebuah Jurnal

Kata orang bijak pada dasarnya semua manusia ingin keuntungan, tidak mau kerugian. Kemudian apa yang dia kerjakan tergantung informasi yang masuk dan ketetapan hati. Informasi itu info positif atau negative akan sangat berpengaruh. Kata orang bijak ini coba saya kaitkan dunia perjurnalan. Saya sudah beberapa kali dihubungi via e-mail dan telepon oleh para pedagang publikasi dari luar negeri. 

Seseorang mengirim e-mail ke official e-mail REGISTER JOURNAL dan dengan saya samarkan nama dan perusahaannya kalimatnya bisa saya share seperti ini:

Dear Editor/ Publisher,

Hope you’re doing well ….!!
I am xxxxxxxx, from xxxxxx GROUP, an eminent publishing company that has been serving the scientific society for more than 3 years. This mail is regarding a business proposal, we are interested to invest in purchasing high quality journals that have high reputation.
May I kindly know your interest towards selling of journal? Also, please let me know your expectations.  Hope you are the best person for this discussion - If not, could you please provide me the contact details.
Name:
Mail ID:
Looking forward to hear from you.

7 Jurus Minimal Tata kelola jurnal menuju Akreditasi Nasional

 Yth. Bapak dan Ibu Pengelola Jurnal. 


Berikut ini adalah pengamatan dan pengalaman saya tentang 7 hal yang sebaiknya diwujudkan untuk mewujudkan tata kelola jurnal menuju akreditasi Nasional:

1.  Team work yang solid dan berkesinambungan.

Kerja pengeloaan jurnal bukanlah pekerjaan yang ringan. Kerja ini memerlukan sinergi yang solid dan berkesinambungan antara author, editor, reviewer, team OJS dan IT. Jika editor berhenti menyunting, reviewer tidak memberi masukan dan kritik terhadap manuscript yang dikimkan dan author tidak mau merevisi naskah setelah mendapat masukan editor dan reviwer sudah tentu kualitas artikel yang sedang diproses tidak akan high quality tapi asal-asalan hasilnya.

7 Kriteria DOAJ Seal, Best of the Best-nya Open Access Journal

Seal DOAJ (Translate: DOAJ segel atau ber-Segel kurang enak dibaca :) :D), diberikan kepada jurnal yang mendemonstrasikan atau menunjukkan praktik terbaik dalam penerbitan akses terbuka. Kira-kira hanya sepuluh persen jurnal yang terindeks di DOAJ telah mendapatkan penghargaan ini. Bukan sekadar DOAJ Green Tick tapi dapat award DOAJ Seal. Menurut keterangan dilaman DOAJ Jurnal tidak harus memenuhi kriteria Seal untuk dapat diterima di DOAJ. 

Ada 7 kriteria yang wajib dipenuhi oleh sebuah jurnal agar memenuhi syarat agar pantas mendapatkan DOAJ Seal. Pencapaian perghargaan ini terkait dengan praktik terbaik dalam preservasi artikel atau dokumen dalam jangka panjang, penggunaan Pengidentifikasi artikel persisten seperti DOI (Digital Object Indentifiers), kemampuan untuk mudah ditemukan di Internet (DIscoverability), kebijakan penggunaan kembali/re-use artikel dan data penelitian, dan pemberian hak cipta milik penulis.

Pengalaman Menarik Sebuah Jurnal yang Terindeks di ASEAN Citation Index

Sejarah Perjalanan ASEAN Citation Index

ASEAN Citation Index (ACI) dalam sejarahnya  bermula  dengan di-release-nya  Thai-Journal Citation Index Centre, atau TCI. TCI pertama kali diperkenalkan kepada publik  di tahun 2001 melalui sebuah proyek penelitian yang didukung secara finansial oleh  Universitas Teknologi Thonburi King Mongkut (KMUTT).

Kemudian di bulan Juli 2004 terwujudlah Thai-Journal Citation Index (TCI) Center yang secara finansial didukung oleh Thailand Research Fund (TRF) dan Universitas Teknologi Thonburi (KMUTT) King Mongkut. Dalam sejarah perkembangannya mulai tahun 2008 sampai  sekarang  TCI terpelihara dengan baik dan mapan dan dalam kurun waktu tersebut TCI Thailand mencoba merangkul semua Negara di Asia Tenggara yang tergabung di 10 Negara ASEAN: Thailand, Brunei, Cambodia, Laos, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura dan Vietnam.

 

10 Standar inklusi jurnal ke ASEAN Citation Index (ACI)

Berikut ini adalah poin poin penting 10 Standar inklusi jurnal ke ASEAN Citation Index (ACI). list sepuluh standar ini bisa dilihat di form ini:

10 Alasan Jurnal Ditolak Aplikasinya oleh Team CSAB SCOPUS

ENGLISH VERSION

Some further feedback is below:

- The geographical reach of authorship and/or content is still limited.
- The journal shows an uneven scholarly quality in the articles, indicating that peer review and editorial management must be strengthened.
- A significant proportion of the articles are of academic quality and do not meet international standards.
- The composition of the Editorial Board needs to be further diversified and grow for a global reach.
- Many good international journals already cover this subject area. Consider strengthening your identity and identify areas that can attract international scholars.

Berikut ini adalah 10 poin alasan utama kenapa jurnal ilmiah belum bisa terindeks di Scopus dan mendapatkan embargo 6 bulan, 1,5 tahun bahkan ada yang embargonya 5 tahun dan baru bisa apply lagi setelah itu dan harus mengirim cover letter yang  isinya perbaikan apa saja yang telah dibuat dengan “daftar dosa” yang dimiliki jurnal ilmiah yang tidak ditolerir oleh team CSAB Scopus. 10 poin rejection ini adalah sebagian pengalaman pribadi saya dan juga pengalaman beberapa kawan yang jurnalnya direject oleh Scopus dan juga dilengkapi dengan info-info dari isian materi webinar per-jurnal-an oleh para pakar dalam bidang per-Scopus-an:

  1. Bad Grammar. Bahasa dan tata bahasa Inggris di banyak artikel buruk, menunjukkan bahwa tinjauan sejawat (Peer Review Process) dan manajemen editorial perlu diperkuat lagi kerjanya.

Pertama dipaksa tapi lama-lama Mencintai

 Pengalaman di dunia perjurnalan yang saya alami cukup unik. Tahun 2015 mendadak Bi-idznillah saya ditakdirkan menjadi Editor in Chief  Jurnal. Waktu itu saya dalam perjalanan ke Kampus dari Solo ke Salatiga dan dapat telpon dari Bapak Ketua STAIN (Sekarang IAIN) Salatiga waktu itu yaitu Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd. Saya agak khawatir karena pesan dalam telpon hanya diminta menghadap Beliau. Bayangan saya adalah kesalahan apa yang saya langgar sehingga dipanggil mendadak. 

Setelah berjumpa di ruangan beliau ternyata saya diminta dengan sangat dan hormat alias “dipaksa” untuk menjadi Editor in Chief REGISTER JOURNAL. Saya agak kaget waktu itu karena nggak punya bayangan sama sekali tentang workflow kerja jurnal. Sebelum itu saya jadi editor tapi hanya mengedit satu artikel setiap semester. Sebagai  penggemar otak-atik Blogspot dan Wordpress, awal-awal saya nggak begitu suka dengan tampilan OJS yang tidak User Friendly.  Pada saat itu saya banyak  diajari oleh Ibu Noor Malihah, Ph.D dari jurnal IJIMS yang sudah terakreditasi A waktu itu dan sudah banyak belajar OJS dengan Pak Saptoni dari Jurnal Al-Jamiah, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Pengalaman Jurnal yang sudah terindeks di Microsoft Academic

Microsoft_Academic merupakan mesin pencari dan website yang khusus dirancang sebagai pusat data informasi kepustakaan, rujukan serta publikasi ilmiah yang mudah diakses khalayak secara free, dikembangkan oleh oleh Microsoft Research. Website daring ini diluncurkan pada tahun 2016, dengan fasilitas pencarian  yang menampilkan struktur informasi dan system mesin pencari yang menawan. Menurut informasi situs Wikipedia, Microsoft Academic menampung  260  juta publikasi dan mayoritas atas kebanyakan dari publikasinya (sejumlah 88  juta) merupakan artikel jurnal ilmiah.

 

16 Kriteria Inklusi Jurnal Ilmiah ke Database Scopus di web readyforscopus dot com

Yth. Bapak dan Ibu Pengelola Jurnal Ilmiah

Berikut ini adalah 16 kriteria inklusi jurnal ke Scopus di situs www.readyforscopus.com. 16 kriteria ini saya buatkan summary dan terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia dan sedikit narasi yang saya tambahkan untuk membantu memahami syarat apa saja yang dikehendaki oleh team evaluator Scopus terhadap jurnal yang submit ke database Scopus. Berikut ini 16 Kriteria inklusi tersebut:

 

1. Jurnal mempunyai minimum dua tahun penerbitan

Jurnal yang hendak dipertimbangkan untuk terindeks di database Scopus wajib berumur minimum dua tahun. Kerangka waktu ini sudah dipertimbangkan dengan baik sebab sebagian besar metrik menganalisis dua tahun terakhir pengelolaan jurnal, namun juga sangat membantu team evaluator Scopus untuk melihat bagiamana suatu jurnal tumbuh dan potensi perkembangannya di masa depan. Jika jurnal itu masih baru pada level tertentu merupakan satu poin positive tersendiri karena masih ada waktu untuk update semua perubahan dan perbaikan yang diperlukan.

 

Begini rasanya diterima oleh Web of Science dan direject oleh Scopus

Jurnal ilmiah Online yang mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 2014 sebenarnya asasnya sama saja dengan Jurnal Ilmiah versi cetak. Meminjam istilah di dunia Blogging dan Google Adsense, ”Content is the King” atau seperti apapun indah dan mind-blowing tampilan jurnal ilmiah baik versi Online maupun cetak, mutu substansi artikel adalah perkara yang paling utama.

 

Di satu sisi, ada persamaan asas tapi di sisi yang lain ada juga yang berbeda. Salah satunya adalah aspek penyebarluasan jurnal. Di era cetak versi print jurnal akan dikirimkan ke berbagai institusi dan kita akan meminta kepada institusi-institusi itu untuk mengirimkan via pos bukti tanda terima jurnal berikut stempel dan signature pejabat  yang berwenang yang telah menerima versi printed  jurnal dari kita. Nah berbeda dengan era sekarang dimana jumlah daily unique visitor pada statcounter pengunjung web-lah yang diperhatikan. Minimal 50 pengunjung unik yang berbeda IP address di jurnal kita. Contohnya Statcounter Jurnal ini.

 

8 Kriteria Ideal Inklusi Jurnal terindeks SINTA

Yth. Bapak dan ibu Pengelola Jurnal Ilmiah

Berikut ini adalah ringkasan dan sedikit penjabaran saya mengenai delapan poin evaluasi diri jurnal di web ARJUNA sebagai pertimbangan penting agar sebuah jurnal bisa secara maksimal mendapatkan poin tertinggi di web akreditasi jurnal di ARJUNA. 

1. Penamaan Spesifik Jurnal Ilmiah.  Idealnya penamaan Jurnal Ilmiah harus Spesifik sehingga mencerminkan super spesialisasi atau spesialisasi disiplin ilmu tertentu. Skornya  bisa sampai 3.0. Jika terpaksanya nama jurnal sudah telanjur sama dengan jurnal yang lain seperti banyak jurnal di Indonesia bernama “Jurnal Pendidikan Islam” atau “Jurnal Tarbawi” atau “Jurnal Penelitian” sebaiknya tidak usah ganti nama tapi focus and scope jurnalnya diubah supaya distinctive, unique, superspesialis beda dengan jurnal lain yang namanya sama atau mirip-mirip.

 

24 Kriteria Evaluasi Inklusi Jurnal ke database Web of Science

 Yth. Bapak dan Ibu Pengelola Jurnal.

Berikut ini adalah 24 Kriteria Evaluasi Inklusi Jurnal ke database Web of Science yang bisa dibaca versi aslinya di link ini dan berikut ini adalah terjemah dalam bahasa Indonesia dan sudah saya edit semaksimalnya untuk memudahkan pemahaman kita tentang standar inklusi jurnal agar terindeks di database Web of Science. Berikut ini 24 Kriteria Evaluasi Inklusi Jurnal ke database Web of Science:

Triase Awal
Tujuan utama langkah triase ini  untuk memastikan identifikasi yang jelas jurnal yang diajukan untuk evaluasi dan untuk mengetahui siapa yang harus di-kontak jika pihak Clarivate-WoS punya pertanyaan. Tidak ada masa embargo untuk pengajuan ulang jika jurnal tidak lolos triase awal.

1. ISSN
Jurnal harus memiliki ISSN terdaftar yang dapat diverifikasi pada basis data ISSN (https://portal.issn.org/) dan ditampilkan secara jelas dan konsisten di semua platform jurnal (elektronik dan/atau cetak). Jika ISSN cetak dan elektronik ada, keduanya harus ditampilkan di web jurnal.

2. Judul Jurnal
Jurnal harus memiliki judul berbeda yang selaras dengan ISSN terdaftar, focus dan scope jurnal, konten yang diterbitkan, dan demografi dan diversitas komunitas akademia (terutama dewan redaksi dan penulis). Judul harus ditampilkan secara konsisten pada tingkat artikel, terbitan dan situs web.

Sifat Pengelola Jurnal yang Ideal

Yth. Bapak dan Ibu Pengelola Jurnal yang Budiman.

Berikut ini rangkuman pendapat saya dan hasil diskusi dengan teman-teman di sosial media tentang 8 (delapan) Sifat Pengelola Jurnal yang Ideal demi kelestarian jurnal ilmiah:

  1. Keikhlasan sebagai Relawan. Kerja pengelolaan jurnal identik dengan workload yang berat tetapi honornya sedikit. Diperlukan jiwa altruistik demi kemaslahatan bersama. Jika seorang pengelola jurnal prinsipnya Ke-Uang-an Yang Maha Esa saya yakin dia tidak akan betah lama bekerja di jurnal. Hal ini dalam konteks jurnal yang diterbitkan oleh kampus atau Universitas. Lain halnya jika tujuan pembuatan dan pengelolaan jurnal adalah profit oriented karena dikelola oleh Perusahaan swasta seperti Elsevier, Taylor Francis, SAGE, Emerald dan sebagainya.  Publisher-Publisher besar ini  sangat terkenal di dunia publikasi dengan image sebagai publisher yang memiliki jurnal-jurnal berkualitas tinggi tetapi sayangnya paywalled atau closed acess dimana di satu publisher pembaca diharuskan membayar 35 USD hanya untuk membaca satu artikel  yang isinya hanya 10 halaman. Bisa dibayangkan berapa keuntungan yang didapatkan oleh publisher besar ini dan kemampuan mereka menggaji pengelola jurnalnya. hal ini sangat berbeda dengan pengelolaan jurnal di kampus atau universitas.

16 Prinsip Best Practice yang dikehendaki DOAJ pada Jurnal Ilmiah

 Yth. Bapak dan Ibu Pengelola Jurnal,
 
Berikut ini adalah summary hasil cerapan saya setelah membaca laman web DOAJ berjudul: Principles of transparency and best practice in scholarly publishing .Saya kira materi ini sangat berguna untuk Bapak dan Ibu Pengelola Jurnal baru dan lama. Bagi pengelola jurnal baru jika jurnal Bapak dan Ibu bisa terindeks di DOAJ artikel-artikel jurnal kita akan meng-Internasional dan minimal akan berada di 86 library online di seluruh dunia diantaranya: Harvard library online, Oxford, Cambrige Library online dan seterusnya. Kemudian juga pada poin ke 8: penyebarluasan jurnal akan mendapatkan poin 3 karena DOAJ termasuk indexing kelas menengah.


 
Jika hanya terindeks di Google Scholar, Garuda dan Moraref poin score hanya 1. Bagi Bapak dan Ibu Pengelola jurnal yang jurnalnya sudah lama terindeks DOAJ perlu update kebijakan yang terbaru dan ada info DOAJ akan meninjau ulang jurnal-jurnal lama sehingga dimungkinkan ada jurnal yang discontinued terindeks DOAJ jika kebijakan jurnalnya tidak best practice lagi. 
 


Attribution: http://doaj.org, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Berikut ini adalah rangkuman dari 16 poin itu yang saya rasa penting dan yang saya pahami saja berdasarkan pengalaman pribadi saya mengelola dua jurnal yang terindeks di DOAJ.

Dua Hal yang kurang disukai Editor Jurnal Ilmiah


Dear Netizens,

Pada hari Rabu, Tanggal  2 juni 2021 Alhamdulillah telah sukses diselenggakan Kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) LPM DinamikA IAIN Salatiga. LPM DinamikA merupakan UKM jurnalistik mahasiswa melalui bagian humas yaitu mbak Luluk Fadliyah meminta dan mengundang saya menyampaikan  materi "Kepenulisan Jurnal" pada pukul 10.30-12.30 WIB di Aula Kampus 1 IAIN Salatiga.


Sebagai pengelola jurnal ilmiah online REGISTER JOURNAL, yang sudah menggeluti pengelolaan jurnal sejak tahun 2015, undangan dan kesempatan ini sangat membahagiakan saya. saya diberi kesempatan berjumpa dengan generasi muda yang penuh semangat meski banyak keterbatasan karena status mereka yang masih belajar di Perguruan Tinggi. Pada moment itu saya sebenarnya membagikan materi PPT yang lengkap tetapi karena keterbatasan waktu saya sampaikan yang pokok saja tentang hal ikhwal artikel jurnal dan bagaimana membuat artikel jurnal yang sesuai standar kepenulisan dalam bahasa Inggris yang baik.