Bagian 1
Membangun Fondasi Jurnal Berkualitas Menuju Indeksasi Scopus
Indeksasi Scopus bukan sekadar persoalan mengirimkan formulir pendaftaran ke Elsevier. Di balik keberhasilan sebuah jurnal masuk ke dalam basis data Scopus terdapat proses panjang yang melibatkan peningkatan kualitas tata kelola jurnal (journal management), kualitas artikel ilmiah, reputasi dewan editor, konsistensi penerbitan, hingga dampak ilmiah (scientific impact) yang dihasilkan. Tidak sedikit jurnal yang harus melakukan pembenahan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya memperoleh status terindeks Scopus.
Berdasarkan berbagai pengalaman editor jurnal internasional, rekomendasi Content Selection and Advisory Board (CSAB) Scopus, serta berbagai praktik baik yang dibagikan melalui PegiatJurnal.com dan forum.relawanjurnal.id, terdapat sejumlah strategi yang terbukti mampu meningkatkan peluang jurnal untuk diterima oleh Scopus. Artikel ini mengembangkan 20 strategi tersebut dengan tambahan penjelasan berdasarkan pedoman resmi dari Scopus, DOAJ, COPE, OASPA, Crossref, hingga PKP.
Perlu dipahami bahwa tidak ada satu pun "jalan pintas" agar jurnal dapat langsung diterima Scopus. Yang dinilai oleh CSAB bukan hanya kualitas artikel, tetapi juga integritas tata kelola jurnal, keberlanjutan penerbitan, transparansi kebijakan, serta kontribusi jurnal terhadap perkembangan ilmu pengetahuan secara global.
A. Strategi Kualitas Konten dan Tata Kelola Jurnal
1. Prioritaskan Publikasi Berkualitas Tinggi
Kualitas artikel merupakan faktor paling penting dalam proses evaluasi jurnal oleh Content Selection and Advisory Board (CSAB) Scopus. Sebagus apa pun tampilan website jurnal, sebanyak apa pun editor internasional yang dimiliki, ataupun seberapa besar biaya yang dikeluarkan untuk promosi, seluruhnya tidak akan berarti apabila artikel yang diterbitkan tidak memberikan kontribusi ilmiah yang nyata.
Artikel berkualitas tidak hanya berarti bebas plagiarisme. Sebuah artikel harus menawarkan novelty (kebaruan ilmiah), metodologi yang kuat, analisis yang mendalam, diskusi yang kritis, serta referensi yang mutakhir. Tim CSAB akan melihat apakah artikel-artikel dalam jurnal benar-benar menjadi rujukan bagi komunitas ilmiah internasional atau hanya mengulang penelitian yang telah banyak dilakukan sebelumnya.
Editor sebaiknya menerapkan standar seleksi yang tinggi. Tidak semua naskah harus diterima hanya demi memenuhi target jumlah artikel. Justru salah satu ciri jurnal bereputasi adalah memiliki acceptance rate yang selektif sehingga hanya artikel terbaik yang diterbitkan. Dalam praktik internasional, rejection rate yang tinggi sering kali mencerminkan komitmen jurnal terhadap kualitas.
Selain itu, editor perlu memastikan bahwa setiap artikel telah melalui proses peer review yang objektif, independen, dan terdokumentasi dengan baik. Reviewer tidak hanya diminta memberikan rekomendasi diterima atau ditolak, tetapi juga memberikan masukan substantif yang benar-benar meningkatkan kualitas naskah.
Pedoman resmi mengenai proses seleksi jurnal Scopus dapat dipelajari melalui:
- Scopus Content Selection & Advisory Board
- Scopus Title Suggestion
2. Sertakan Abstrak Bahasa Inggris yang Komprehensif
Abstrak merupakan "etalase" sebuah artikel ilmiah. Dalam banyak kasus, pembaca internasional hanya membaca judul dan abstrak sebelum memutuskan apakah artikel tersebut layak dibaca secara penuh.
Oleh karena itu, abstrak berbahasa Inggris harus disusun secara lengkap dan informatif. Abstrak yang terlalu pendek sering kali gagal menjelaskan kontribusi penelitian. Sebaliknya, abstrak yang baik mampu menggambarkan latar belakang penelitian, tujuan, metode, hasil utama, serta implikasi penelitian secara ringkas namun padat.
Scopus sendiri mengindeks metadata artikel, termasuk abstraknya. Artinya, kualitas abstrak akan sangat memengaruhi peluang artikel ditemukan melalui mesin pencari ilmiah seperti Scopus, Google Scholar, Dimensions, maupun OpenAlex.
Beberapa editor jurnal internasional bahkan menyarankan abstrak sepanjang 200–300 kata agar informasi yang disampaikan cukup komprehensif.
Selain itu, hindari penggunaan hasil terjemahan otomatis tanpa penyuntingan manusia. Bahasa Inggris akademik memiliki struktur dan gaya yang berbeda dengan bahasa sehari-hari. Kesalahan tata bahasa pada abstrak dapat menurunkan kesan profesional jurnal.
Referensi resmi:
3. Pertimbangkan Menerjemahkan Artikel Utama ke Bahasa Inggris
Bahasa merupakan salah satu faktor penting dalam internasionalisasi jurnal. Walaupun Scopus tidak mewajibkan seluruh artikel menggunakan bahasa Inggris, penggunaan bahasa internasional akan memperluas jangkauan pembaca dan meningkatkan peluang sitasi.
Banyak jurnal nasional yang berhasil masuk Scopus karena secara bertahap meningkatkan proporsi artikel berbahasa Inggris. Untuk jurnal yang masih berkembang, strategi yang realistis adalah menerbitkan sebagian artikel terbaik dalam bahasa Inggris sambil tetap mempertahankan artikel berbahasa nasional sesuai kebutuhan pembaca lokal.
Penerjemahan artikel tidak boleh dilakukan secara asal. Idealnya, proses penerjemahan dilakukan oleh penerjemah akademik yang memahami bidang ilmu terkait, kemudian dilanjutkan dengan proofreading oleh penutur asli (native speaker) atau editor profesional.
Selain meningkatkan visibilitas internasional, artikel berbahasa Inggris juga lebih mudah ditemukan melalui berbagai database internasional sehingga peluang sitasi menjadi lebih besar.
Referensi:
- Elsevier Language Editing Services
- Springer Nature Author Services
4. Miliki Focus and Scope yang Unik
Salah satu alasan utama jurnal ditolak Scopus adalah karena dianggap tidak memiliki diferensiasi dibandingkan jurnal lain yang sudah lebih dahulu terindeks.
Scopus tidak hanya mencari jurnal yang berkualitas, tetapi juga jurnal yang memiliki identitas akademik yang jelas. Oleh karena itu, focus and scope harus dirumuskan secara spesifik sehingga menunjukkan niche atau bidang keahlian tertentu.
Sebagai contoh, daripada menggunakan ruang lingkup yang terlalu luas seperti Education, jurnal dapat mengkhususkan diri pada English Language Teaching in Islamic Higher Education, Islamic Educational Technology, atau Vocational English Education. Fokus yang lebih sempit justru memperkuat identitas jurnal dan memudahkan pembaca mengenali kontribusinya.
Editor juga perlu melakukan pemetaan terhadap jurnal-jurnal Scopus yang sudah ada agar tidak sekadar meniru ruang lingkup mereka. Gunakan database Scopus atau Scopus Sources untuk melihat apakah niche yang dipilih masih memiliki ruang pengembangan.
Referensi:
- Scopus Sources
- Scopus Content Policy and Selection
5. Pastikan Konsistensi antara Focus and Scope dengan Artikel yang Diterbitkan
Kesalahan yang masih sering ditemukan pada jurnal berkembang adalah adanya ketidaksesuaian antara ruang lingkup jurnal dengan artikel yang diterbitkan.
Misalnya, jurnal menyatakan fokus pada "Islamic Law in Southeast Asia", tetapi sebagian besar artikel justru membahas pendidikan, ekonomi, atau bahkan teknologi tanpa kaitan dengan hukum Islam. Ketidakkonsistenan seperti ini akan menunjukkan bahwa jurnal belum memiliki arah editorial yang jelas.
Editor harus memastikan bahwa setiap naskah yang diterima benar-benar sesuai dengan ruang lingkup jurnal. Apabila artikel berada di luar fokus jurnal, sebaiknya ditolak sejak tahap desk evaluation, meskipun kualitasnya baik.
Konsistensi ini akan membangun reputasi jurnal sebagai rujukan utama pada bidang tertentu. Dalam jangka panjang, identitas yang kuat akan meningkatkan jumlah sitasi karena para peneliti mengetahui bahwa jurnal tersebut memang menjadi tempat publikasi utama pada disiplin ilmu tertentu.
Referensi:
