### 1. Fokus & Identitas Jurnal (Focus & Scope)
Untuk mencapai level SINTA 2, jurnal harus memiliki fokus dan identitas yang jelas, spesifik, dan tidak terlalu luas. Jurnal perlu membatasi diri pada satu atau dua bidang superspesialisasi yang menjadi ciri khasnya, misalnya "Pendidikan Matematika Realistik Indonesia" atau "Psikologi Positif dalam Konteks Organisasi". Fokus ini harus secara eksplisit menyasar permasalahan lokal yang memiliki relevansi global, sehingga artikel yang diterbitkan menarik bagi pembaca internasional. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa jurnal yang dibina umumnya memiliki kelemahan pada kebijakan editorial yang terdokumentasi dengan lemah, sehingga penguatan fokus menjadi langkah awal yang krusial .
Untuk level SINTA 1, fokus jurnal harus tidak hanya spesifik tetapi juga telah diakui secara internasional sebagai niche penting dalam bidang keilmuan. Jurnal harus mampu mengundang penulis-penulis ahli dari dalam dan luar negeri yang kompeten di bidang spesifik tersebut. Jurnal SINTA 1 idealnya telah memiliki jejaring penulis dan editor internasional yang kuat, dan fokusnya sering kali bersinggungan dengan isu-isu global yang sedang hangat (trending topics). Dengan demikian, identitas jurnal menjadi sangat kuat dan mudah dikenali, tidak bersaing dengan jurnal generalis, serta memenuhi standar internasional yang dipersyaratkan untuk indeksasi Scopus .
### 2. Kualitas Artikel Ilmiah
Pada level SINTA 2, setiap artikel wajib memiliki novelty (kebaruan), gap (celah penelitian), dan theoretical contribution (kontribusi teoretis) yang ditampilkan secara eksplisit di bagian pendahuluan (introduction). Artikel tidak boleh bersifat deskriptif semata, melainkan harus analitis-kritis serta menunjukkan bagaimana penelitian tersebut memajukan pengetahuan. Kualitas keterbacaan artikel juga menjadi perhatian utama, di mana hasil identifikasi menunjukkan bahwa salah satu kelemahan jurnal target binaan adalah rendahnya kualitas keterbacaan artikel .
Untuk level SINTA 1, kualitas artikel harus setara dengan jurnal internasional bereputasi. Selain tiga elemen di atas (novelty, gap, kontribusi), artikel harus memiliki potensi sitasi yang tinggi dan metodologi penelitian yang mutakhir. Jurnal SINTA 1 biasanya telah memiliki rejection rate yang tinggi (di atas 60-70%) karena hanya artikel dengan kualitas terbaik yang diterbitkan. Tingkat orisinalitas dan orisinalitas artikel disesuaikan secara progresif dengan level jurnal, di mana SINTA 1 menuntut standar orisinalitas tertinggi .
### 3. Proses Peer-Review di OJS System
Untuk level SINTA 2, proses peer-review harus menerapkan sistem double-blind secara konsisten dengan minimal dua reviewer per naskah. Setiap naskah harus melalui screening awal oleh editor, kemudian direview oleh reviewer yang bidang keahliannya sesuai. Seluruh proses harus terdokumentasi dengan baik di OJS, mulai dari assignment reviewer, komentar reviewer, hingga keputusan editorial. Untuk mencapai level ini, pengelola jurnal perlu memperkuat mekanisme peer-review, yang selama ini menjadi salah satu kelemahan jurnal target binaan .
Untuk level SINTA 1, proses review tidak hanya kuantitas (jumlah reviewer) tetapi juga kualitas dan kecepatan. Jurnal idealnya memiliki turnaround time yang terukur (misalnya 4-8 minggu dari submission hingga keputusan akhir). Reviewer untuk SINTA 1 biasanya juga merupakan para ahli yang memiliki rekam jejak publikasi internasional (Scopus ID). Selain itu, proses review harus transparan dalam kebijakannya (misalnya menyediakan kebijakan anti-plagiarisme, retraction, dan correction), serta semua alur kerja (workflow) OJS harus terkonfigurasi dengan sempurna .



.png)
