10 perubahan yang paling “revolusioner” di **Permendiktisaintek No. 9 Tahun 2026* tentang akreditasi jurnal nasional

 10 perubahan yang paling “revolusioner” di **Permendiktisaintek No. 9 Tahun 2026* tentang akreditasi jurnal nasional

1. SINTA 1–6 → hanya SINTA 1–4 untuk akreditasi baru.

2. Passing grade naik: P1 ≥90, P2 ≥80, P3 ≥70, P4 ≥60.

3. Mutu artikel menjadi bobot terbesar: 54%.

4. Tata kelola menjadi 46%.

5. DOI wajib aktif pada setiap artikel.

6. Etika publikasi dan integritas ilmiah diperketat secara signifikan.

7. Fabrikasi, falsifikasi, authorship, konflik kepentingan, manipulasi sitasi/metadata dan LoA palsu secara eksplisit diawasi.

8. Ada monitoring pasca-akreditasi.

9. Peringkat dapat diturunkan, dibekukan, atau dicabut.

10. Akreditasi berubah dari sekadar “mendapatkan status” menjadi sistem penjaminan mutu yang berkelanjutan.

9 Langkah Pembuatan OJS Jurnal Baru dari Nol hingga Terakreditasi Nasional dan Terindeks Internasional

 

9 Langkah Pembuatan OJS Jurnal Baru dari Nol hingga Terakreditasi Nasional dan Terindeks Internasional

Berikut adalah roadmap singkat perjalanan membangun dan mengembangkan jurnal ilmiah dari nol hingga mencapai akreditasi nasional dan internasionalisasi.

1. Menentukan Nama dan Fokus Jurnal

Langkah awal yang sangat penting adalah menentukan nama jurnal serta focus and scope (fokus dan cakupan) jurnal.

Nama jurnal sebaiknya spesifik dan mencerminkan bidang keilmuan yang menjadi fokus utama. Contohnya adalah Indonesian Journal of Islamic Communication atau Journal of English Language Teaching.

Hindari penggunaan nama “International Journal of...” apabila jurnal belum memiliki karakteristik dan jejaring internasional yang memadai. Untuk jurnal baru, sebaiknya gunakan nama yang mencerminkan cakupan nasional terlebih dahulu, kecuali jurnal tersebut memiliki karakteristik seperti:

  • seluruh atau mayoritas artikel menggunakan bahasa Inggris;
  • sebagian besar editor dan reviewer berasal dari minimal tiga negara berbeda; dan
  • jurnal memiliki cakupan keilmuan global serta jejaring internasional yang nyata.

2. Menentukan Penerbit (Publisher)

Publisher adalah badan atau institusi yang bertanggung jawab atas penerbitan jurnal. Penerbit dapat berupa institusi pendidikan, seperti perguruan tinggi, maupun lembaga nonperguruan tinggi, seperti CV, PT, yayasan, atau organisasi lainnya.

Untuk aspek legalitas dan profesionalitas, penerbit nonperguruan tinggi sebaiknya memiliki badan hukum yang jelas, misalnya CV atau PT, sebelum menerbitkan jurnal secara resmi.

3. Membentuk Tim Pengelola Jurnal

Pengelolaan jurnal membutuhkan setidaknya dua kelompok utama, yaitu tim editorial dan tim teknis/IT.

Tim editorial dapat terdiri atas Editor-in-Chief, Managing Editor, Section Editors, Copy Editors, Proofreaders, dan Reviewers/Mitra Bestari. Sementara itu, tim teknis/IT bertugas mengelola sistem OJS (Open Journal Systems), memelihara situs web, mengunggah artikel, mengatur metadata, serta menangani berbagai kebutuhan teknis lainnya.

Seluruh pengelola jurnal perlu memahami prinsip etika publikasi ilmiah, proses peer review, dan tata kelola jurnal yang baik.

Tutorial pengelolaan jurnal dari proses submission hingga publication dapat dilihat di:
Tutorial Pengelolaan Jurnal dari Submit hingga Publish

4. Membuat Website Jurnal Berbasis OJS

JURNAL VOKAL & DIFTONG JURNAL UNIV TERBUKA JAKARTA

VOKAL: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia 

https://share.google/XScQ6DCDm2L5zhagQ

 Diftong : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

  https://share.google/4krlQcIEpCzl9Gx0H

Jasa Pembuatan Web OJS & Pendampingan Indeksasi DOAJ, Scopus & WoS

 Tingkatkan Profesionalisme Jurnal Ilmiah dengan Website OJS dan Pendampingan Indeksasi

Pengelolaan jurnal ilmiah kini membutuhkan infrastruktur digital yang profesional, aman, dan sesuai dengan standar publikasi ilmiah internasional. Layanan pembuatan website jurnal berbasis Open Journal Systems (OJS) hadir untuk membantu instansi, perguruan tinggi, lembaga penelitian, maupun organisasi akademik membangun dan mengembangkan platform jurnal secara lebih profesional. Layanan meliputi instalasi OJS single journal, registrasi domain dan hosting, pemilihan serta pengaturan tema, tutorial bagi pengelola jurnal, hingga pembaruan versi OJS. Layanan dapat disesuaikan untuk pengelola yang masih menggunakan OJS 2 maupun OJS 3.

Tidak hanya membangun website, tersedia pula pendampingan indeksasi jurnal, mulai dari Directory of Open Access Journals (DOAJ) hingga persiapan menuju indeksasi internasional seperti Scopus dan Web of Science (WoS). Pendampingan mencakup evaluasi dan perbaikan website jurnal, tata kelola editorial, kualitas dan konsistensi artikel, transparansi proses peer review, etika publikasi, metadata, DOI, serta aspek internasionalisasi jurnal. Untuk pengajuan DOAJ, layanan juga mencakup pendampingan proses registrasi secara daring dan konsultasi pascasubmission apabila jurnal memperoleh permintaan evaluasi atau revisi.

Dengan pengalaman menangani berbagai bidang jurnal, layanan ini dapat menjadi pilihan bagi pengelola yang ingin meningkatkan kesiapan, profesionalisme, dan visibilitas jurnal ilmiah. Contoh jurnal yang dikembangkan mencakup berbagai disiplin, antara lain pragmatik, peternakan, studi agama dan filsafat, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta ilmu pangan dan lingkungan. Perlu ditegaskan bahwa pendampingan tidak menjamin diterimanya jurnal dalam indeksasi tertentu karena keputusan akhir tetap berada pada masing-masing lembaga pengindeks seperti DOAJ, Scopus, dan Web of Science. Informasi layanan dan konsultasi dapat diperoleh melalui JOLCC – Layanan Pembuatan Website OJS atau WhatsApp +62 821-3819-2095 dan 0856-4201-9501.

Mengapa penulis mengirim preprint sebelum naskah accepted di jurnal?

 Preprint adalah naskah ilmiah yang dibagikan secara online sebelum melalui proses peer review atau sebelum memperoleh keputusan accepted dari jurnal. Tujuannya agar hasil penelitian dapat dibaca dan diketahui publik lebih awal.

Misalnya, seorang dosen telah menyelesaikan artikel tentang Cyberpragmatics in Digital Da’wah. Naskah tersebut masih dalam proses mencari jurnal atau sedang direview. Penulis kemudian mengunggahnya ke repositori preprint seperti arXiv atau Research Square.

1. Apa keuntungan mengirim preprint?

  1. Publikasi lebih cepat

Hasil penelitian dapat dibaca publik segera setelah diunggah, tanpa harus menunggu proses review jurnal yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.

  1. Meningkatkan visibilitas dan sitasi

Peneliti lain dapat menemukan, membaca, dan mengutip naskah tersebut. Preprint juga dapat membantu artikel lebih mudah ditemukan melalui mesin pencari akademik.

  1. Menunjukkan prioritas penelitian