JURNAL DINAMIKA UIN SALATIGA, DARI SINTA 4 NAIK KE SINTA 3
Jurnal DinamikA, jurnal yang dikelola oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) DinamikA UIN Salatiga, resmi naik peringkat dari SINTA 4 ke SINTA 3.
Capaian ini merupakan wujud komitmen dalam meningkatkan kualitas tata kelola jurnal serta mutu publikasi ilmiah secara berkelanjutan.
Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 295/C/C3/KPT/2026 tentang Peringkat Reakreditasi Jurnal Ilmiah Periode Tahun 2025.
Semoga pencapaian ini menjadi dorongan untuk terus menghadirkan karya ilmiah yang kritis, berkualitas, dan berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
#JurnalDinamikA #SINTA3 #LPMDinamikA #UINSalatiga #JurnalIlmiah
JOALL (Journal of Applied Linguistics and Literature)
https://ejournal.unib.ac.id/index.php/joall/issue/archive
JOALL (Journal of Applied Linguistics and Literature) is a double-blind peer-reviewed international journal with an editorial board of scholars mainly in applied linguistics, literature, and English language teaching (ELT). Published biannually by UNIB Press, Universitas Bengkulu, Indonesia with the ISSN (online): 2503-524X; and ISSN (print): 2502-7816, the journal seeks to disseminate research to educators around the world. Authors are encouraged to submit complete, unpublished, original, and full-length articles that are not under review in any other journals.
RAB & detailing biaya publikasi jurnal (APC) dari SINTA 1 hingga SINTA 6
Rancangan anggaran dan detailing biaya publikasi jurnal (Article Processing Charge/APC) dari SINTA 1 hingga SINTA 6 disusun secara sistematis dengan mengacu pada prinsip kewajaran yang tertuang dalam Standar Biaya Masukan (SBM) sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 32 Tahun 2025 untuk Tahun Anggaran 2026. Fokus utama dalam penyusunan ini adalah pada komponen honorarium profesional yang meliputi penyunting (editor), mitra bestari (reviewer), serta layanan penerjemahan dan proofreading. Rancangan ini bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara efisiensi anggaran dan peningkatan kualitas publikasi ilmiah.
Secara umum, pembagian anggaran dilakukan secara proporsional dengan mempertimbangkan beban kerja dan kontribusi masing-masing komponen dalam proses publikasi. Honor penyunting dan mitra bestari dialokasikan masing-masing sebesar 30–40% dari total APC, sedangkan biaya penerjemahan dan proofreading berkisar antara 20–30%. Pola ini menunjukkan bahwa semakin tinggi peringkat SINTA suatu jurnal, maka semakin besar pula porsi anggaran yang dialokasikan untuk peningkatan kualitas bahasa dan internasionalisasi.
Pada kategori SINTA 1 dengan APC sebesar Rp7.000.000, alokasi biaya mencerminkan standar jurnal yang mendekati tingkat internasional. Honor penyunting dan mitra bestari masing-masing sebesar Rp2.450.000 (35%), sementara biaya penerjemahan dan proofreading mencapai Rp2.100.000 (30%). Struktur ini menunjukkan adanya proses penyuntingan berlapis yang melibatkan chief editor dan handling editor, serta penggunaan minimal dua hingga tiga reviewer internasional. Selain itu, proofreading dilakukan oleh tenaga profesional dengan kemampuan bahasa Inggris tingkat lanjut, sehingga kualitas bahasa menjadi prioritas utama.
Untuk SINTA 2 dengan APC sebesar Rp2.000.000, pembagian anggaran tetap mengikuti proporsi yang sama, yaitu masing-masing Rp700.000 (35%) untuk penyunting dan mitra bestari, serta Rp600.000 (30%) untuk proofreading. Pada tingkat ini, jurnal mulai mengarah pada internasionalisasi, meskipun belum sepenuhnya menggunakan standar native proofreading. Reviewer yang dilibatkan umumnya berasal dari tingkat nasional dengan tambahan sebagian reviewer internasional.
Pada SINTA 3 dengan APC sebesar Rp1.000.000, alokasi biaya menunjukkan fokus pada penguatan kualitas dasar publikasi. Honor penyunting dan mitra bestari masing-masing sebesar Rp350.000 (35%), sedangkan proofreading sebesar Rp300.000 (30%). Proses editorial biasanya melibatkan satu handling editor dengan dua reviewer nasional, sementara proofreading masih terbatas pada pemeriksaan tata bahasa dan perbaikan minor.
Selanjutnya, pada SINTA 4 dengan APC sebesar Rp500.000, pembagian anggaran mencerminkan tahap awal penguatan kualitas jurnal nasional. Honor penyunting dan mitra bestari masing-masing sebesar Rp175.000 (35%), sedangkan proofreading sebesar Rp150.000 (30%). Proses penyuntingan masih bersifat dasar dengan keterlibatan reviewer nasional dalam jumlah terbatas, serta proofreading yang berfokus pada koreksi teknis sederhana.
Pada kategori SINTA 5 dan SINTA 6 dengan APC sebesar Rp250.000, struktur biaya lebih diarahkan pada fungsi diseminasi ilmiah dibandingkan peningkatan kualitas tinggi. Honor penyunting dan mitra bestari masing-masing sebesar Rp100.000 (40%), sedangkan proofreading hanya sebesar Rp50.000 (20%). Dalam praktiknya, peran editor sering kali merangkap, reviewer terbatas pada satu orang, dan proses proofreading sebagian besar dilakukan secara mandiri oleh penulis.
Secara keseluruhan, rancangan anggaran ini telah sesuai dengan prinsip-prinsip dalam SBM, yaitu berbasis output per artikel, tidak melebihi batas kewajaran honorarium profesional nasional, serta proporsional terhadap beban kerja masing-masing pihak yang terlibat. Setiap komponen biaya mencerminkan kontribusi nyata dalam proses publikasi, mulai dari penilaian substansi oleh reviewer hingga penyempurnaan bahasa oleh proofreader.
Dalam praktik terbaik menuju jurnal yang ideal, terdapat perbedaan fokus pengelolaan berdasarkan tingkat SINTA. Jurnal SINTA 1 dan 2 dituntut untuk mengedepankan proofreading profesional dan keterlibatan reviewer internasional. Sementara itu, SINTA 3 dan 4 lebih berfokus pada konsistensi editorial dan peningkatan kualitas dasar. Adapun SINTA 5 dan 6 diarahkan pada penguatan manajemen sistem jurnal, seperti penggunaan OJS dan menjaga keberkalaan penerbitan.
Sebagai kesimpulan strategis, peningkatan peringkat SINTA tidak hanya berkorelasi dengan peningkatan biaya publikasi, tetapi juga menunjukkan pergeseran orientasi menuju kualitas yang lebih tinggi, terutama dalam aspek review dan bahasa akademik. Oleh karena itu, kunci utama dalam pengembangan jurnal menuju standar nasional dan internasional terletak pada kualitas mitra bestari, profesionalitas penyuntingan, serta penggunaan bahasa akademik yang baik dan benar.
7 Kelemahan Umum Jurnal yang belum terindeks di SINTA 1 atau SINTA 2
1. Secara umum, pengelolaan penyuntingan dan manajemen jurnal yang belum mencapai level SINTA 1 dan SINTA 2 masih menunjukkan sejumlah kelemahan yang cukup krusial.
A. Keterlibatan aktif mitra bestari belum optimal, bahkan sebagian besar belum memiliki bukti rekam jejak akademik yang jelas seperti URL CV, ORCID, atau profil publikasi. Hal ini berdampak pada rendahnya kualitas proses review, yang terlihat dari mutu penyuntingan substansi artikel yang masih belum baik.
B. Selain itu, dewan editor juga belum sepenuhnya memenuhi standar internasional karena kurangnya transparansi rekam jejak ilmiah.
SOLUSI: Untuk memperbaiki kondisi ini, jurnal perlu memastikan bahwa minimal 80% reviewer aktif terlibat dalam proses review, dilengkapi dengan identitas akademik yang terverifikasi, serta menerapkan sistem double-blind peer review yang ketat. Perekrutan reviewer dan editor dari luar negeri juga menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kredibilitas dan internasionalisasi jurnal.
2. Dari aspek substansi artikel,
A. ditemukan beberapa kelemahan mendasar, seperti kualitas artikel yang sebagian masih kurang baik, cakupan keilmuan yang terlalu luas, serta minimnya kontribusi penulis dari luar negeri.
B. Selain itu, masalah teknis seperti website jurnal yang tidak dapat diakses saat penilaian menjadi catatan serius karena menyangkut kredibilitas dan aksesibilitas jurnal.
C. jurnal yang belum mencapai level SINTA 1 dan SINTA 2 biasanya belum memiliki jejak sitasi di database internasional seperti Dimensions atau platform sejenis, yang menunjukkan rendahnya dampak ilmiah.



