7 Kelemahan Umum Jurnal yang belum terindeks di SINTA 1 atau SINTA 2

 1. Secara umum, pengelolaan penyuntingan dan manajemen jurnal yang belum mencapai level SINTA 1 dan SINTA 2 masih menunjukkan sejumlah kelemahan yang cukup krusial.

A. Keterlibatan aktif mitra bestari belum optimal, bahkan sebagian besar belum memiliki bukti rekam jejak akademik yang jelas seperti URL CV, ORCID, atau profil publikasi. Hal ini berdampak pada rendahnya kualitas proses review, yang terlihat dari mutu penyuntingan substansi artikel yang masih belum baik.

B. Selain itu, dewan editor juga belum sepenuhnya memenuhi standar internasional karena kurangnya transparansi rekam jejak ilmiah.

SOLUSI: Untuk memperbaiki kondisi ini, jurnal perlu memastikan bahwa minimal 80% reviewer aktif terlibat dalam proses review, dilengkapi dengan identitas akademik yang terverifikasi, serta menerapkan sistem double-blind peer review yang ketat. Perekrutan reviewer dan editor dari luar negeri juga menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kredibilitas dan internasionalisasi jurnal.

2. Dari aspek substansi artikel,

A. ditemukan beberapa kelemahan mendasar, seperti kualitas artikel yang sebagian masih kurang baik, cakupan keilmuan yang terlalu luas, serta minimnya kontribusi penulis dari luar negeri.

B. Selain itu, masalah teknis seperti website jurnal yang tidak dapat diakses saat penilaian menjadi catatan serius karena menyangkut kredibilitas dan aksesibilitas jurnal.

C. jurnal yang belum mencapai level SINTA 1 dan SINTA 2 biasanya belum memiliki jejak sitasi di database internasional seperti Dimensions atau platform sejenis, yang menunjukkan rendahnya dampak ilmiah.

SOLUSI: Untuk itu, diperlukan perbaikan menyeluruh melalui peningkatan kualitas seleksi artikel (misalnya dengan menurunkan acceptance rate), penggunaan plagiarism checker, serta penguatan fokus scope jurnal agar lebih spesifik. Upaya internasionalisasi perlu dilakukan dengan membuka call for papers secara global, menjalin kerja sama dengan konferensi internasional, dan menghadirkan guest editor dari luar negeri. Selain itu, jurnal harus segera memastikan stabilitas website dengan dukungan hosting yang andal.

3. Dalam aspek gaya penulisan dan konsistensi, meskipun secara umum struktur artikel telah mengikuti pedoman, masih terdapat potensi inkonsistensi yang dapat menurunkan kualitas jurnal. Hal ini mencakup kemungkinan ketidaksesuaian gaya sitasi, format penulisan, dan penggunaan template yang belum seragam.

SOLUSI:Untuk mengatasi hal tersebut, jurnal perlu menerapkan template wajib bagi penulis serta menetapkan standar gaya sitasi tertentu (seperti APA atau MLA) secara konsisten. Penggunaan aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley atau Zotero juga perlu didorong untuk menjaga konsistensi dan akurasi sitasi.

4. Dari sisi penampilan dan layout, masih terdapat kelemahan dalam tata letak artikel, termasuk potensi kesalahan tipografi, kualitas gambar yang kurang jelas, serta inkonsistensi desain antar artikel. Hal ini menunjukkan bahwa proses layouting belum sepenuhnya profesional.

SOLUSI: Oleh karena itu, jurnal perlu memastikan bahwa setiap artikel disajikan dalam format PDF berkualitas tinggi, dengan tata letak yang seragam, font standar akademik, serta kualitas visual yang baik tanpa adanya elemen hasil scan yang buram.

5. Dalam hal penggunaan bahasa dan tampilan website, jurnal masih menghadapi inkonsistensi, terutama terkait penggunaan bahasa bilingual yang tidak sesuai dengan standar pengelolaan jurnal. Ketidakkonsistenan ini dapat membingungkan pembaca dan menurunkan profesionalitas jurnal.

SOLUSI: Untuk meningkatkan kualitas dan kesiapan menuju indeksasi internasional, jurnal disarankan menggunakan satu bahasa utama secara konsisten, yaitu bahasa Inggris untuk target internasional, dengan tetap menyediakan abstrak dalam bahasa Inggris sebagai kewajiban.

6. Dari aspek penyebarluasan dan dampak, jumlah kunjungan jurnal masih sangat rendah menunjukkan bahwa visibilitas dan daya tarik jurnal belum optimal. Hal ini mengindikasikan kurangnya strategi promosi dan diseminasi ilmiah.

SOLUSI: Untuk meningkatkan dampak, jurnal yang belum mencapai level SINTA 1 dan SINTA 2 perlu mengoptimalkan promosi melalui media sosial akademik seperti FB, WAG, LinkedIn, TELEGRAM, dan platform lainnya, serta meningkatkan kualitas SEO melalui pengelolaan metadata dan keyword yang tepat. Target peningkatan kunjungan dan sitasi harus ditetapkan secara realistis untuk mendukung pertumbuhan reputasi jurnal.

7. Pada aspek kelembagaan, meskipun jurnal telah memiliki penerbit yang jelas, masih terdapat kelemahan dalam pembuktian kerja sama dengan asosiasi profesi ilmiah. Ketiadaan bukti formal seperti MoU atau dokumentasi kerja sama dapat mengurangi nilai kelembagaan jurnal.

SOLUSI: Oleh karena itu, jurnal perlu memperkuat aspek ini dengan menyediakan bukti kerja sama yang valid dan memastikan bahwa mitra yang terlibat merupakan asosiasi ilmiah yang kredibel di tingkat nasional atau internasional.

Secara Keseluruhan, permasalahan utama yang perlu segera ditangani meliputi aksesibilitas website yang belum stabil, kualitas artikel yang masih kurang optimal, kredibilitas reviewer dan editor yang belum memadai, rendahnya tingkat internasionalisasi, serta minimnya sitasi di database global. Untuk mencapai standar jurnal nasional bereputasi tinggi dan internasional, jurnal yang belum mencapai level SINTA 1 dan SINTA 2 harus melakukan perbaikan strategis yang mencakup peningkatan kualitas manajemen editorial, penguatan substansi ilmiah, konsistensi gaya penulisan, profesionalitas tampilan, serta ekspansi jaringan internasional. Dengan langkah-langkah tersebut, jurnal memiliki peluang yang lebih besar untuk mencapai akreditasi tinggi (SINTA 1) dan indeksasi di database internasional seperti Scopus atau Web of Science.

 

Tidak ada komentar: