ASPEK SUBSTANSI (KUALITAS ILMIAH JURNAL) & ASPEK MANAJEMEN OJS (TATA KELOLA JURNAL)


ASPEK SUBSTANSI (KUALITAS ILMIAH JURNAL)

Ini adalah faktor paling menentukan skor tinggi.
a. Fokus & identitas jurnal (focus and scope)

Fokus dan identitas jurnal harus dirumuskan secara jelas, spesifik, dan mencerminkan disiplin ilmu tertentu agar mudah dikenali oleh komunitas akademik yang dituju. Nama jurnal sebaiknya tidak terlalu umum, tetapi menggambarkan ruang lingkup kajian secara tegas sehingga membedakannya dari jurnal lain yang sejenis. Selain itu, fokus yang bersifat niche atau super-spesialis akan memberikan nilai tambah karena menunjukkan keunikan dan posisi ilmiah jurnal dalam ekosistem publikasi, yang secara langsung memengaruhi penilaian diferensiasi dalam akreditasi.
b. Kualitas artikel ilmiah

Artikel yang diterbitkan harus benar-benar memenuhi standar ilmiah, yaitu berbasis data, menggunakan metodologi yang jelas, serta memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Jumlah referensi juga menjadi indikator penting, di mana untuk tingkat SINTA 2 umumnya berkisar sekitar 30 referensi, sedangkan untuk SINTA 1 dapat mencapai sekitar 60 referensi dengan dominasi sumber dari jurnal internasional bereputasi. Selain itu, setiap artikel wajib memiliki unsur kebaruan (novelty) serta kontribusi ilmiah yang tegas dan terukur agar dapat dinilai memiliki nilai tambah dalam bidang kajiannya.
c. Proses peer-review yang kuat

Proses peer-review merupakan inti dari kualitas akademik jurnal, sehingga setiap artikel harus melalui mekanisme penilaian oleh mitra bestari secara ketat dan objektif. Sistem review yang baik ditandai dengan keterlibatan reviewer dari berbagai institusi dan, jika memungkinkan, dari berbagai negara untuk menjamin keberagaman perspektif ilmiah. Jurnal akan memperoleh nilai lebih tinggi apabila proporsi reviewer internasional mencapai atau melebihi 50%, karena hal ini menunjukkan bahwa proses evaluasi telah memenuhi standar global.
d. Kualitas editor & reviewer

Kredibilitas jurnal sangat dipengaruhi oleh kualitas tim editor dan reviewer yang terlibat di dalamnya. Editor ideal adalah akademisi yang aktif mempublikasikan karya ilmiah, khususnya di jurnal internasional bereputasi, serta memiliki rekam jejak akademik yang jelas. Selain itu, keberagaman asal institusi dan negara dari editor dan reviewer menunjukkan bahwa jurnal memiliki jejaring akademik yang luas, sehingga meningkatkan kepercayaan publik dan menjadi indikator penting dalam penilaian akreditasi.
e. Internasionalisasi



Internasionalisasi merupakan salah satu faktor kunci dalam mencapai peringkat akreditasi tertinggi karena mencerminkan daya jangkau dan pengaruh jurnal secara global. Hal ini dapat ditunjukkan melalui keterlibatan penulis dari berbagai negara, idealnya lebih dari lima negara untuk memperoleh skor tinggi. Selain itu, penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa utama publikasi serta adanya kolaborasi penelitian lintas negara akan memperkuat posisi jurnal sebagai bagian dari komunitas ilmiah internasional.
f. Indeksasi & reputasi

Indeksasi menjadi indikator penting dalam menilai visibilitas dan reputasi jurnal di tingkat nasional maupun internasional. Minimal, jurnal harus terindeks di platform seperti Google Scholar dan Garuda agar dapat diakses secara luas. Nilai akreditasi akan meningkat jika jurnal berhasil masuk ke indeksasi tingkat menengah seperti DOAJ atau Dimensions, dan akan mencapai skor sangat tinggi apabila terindeks di basis data bereputasi global seperti Scopus atau Web of Science, yang menunjukkan pengakuan internasional terhadap kualitas jurnal tersebut.

ASPEK MANAJEMEN OJS (TATA KELOLA JURNAL)

Ini menentukan apakah jurnal dianggap profesional & layak akreditasi.
a. Konsistensi penerbitan

Konsistensi dalam penerbitan merupakan syarat mutlak dalam akreditasi jurnal karena mencerminkan komitmen dan keberlanjutan pengelolaan jurnal. Jurnal harus terbit secara teratur minimal selama dua tahun berturut-turut, dengan frekuensi sekurang-kurangnya dua edisi per tahun dan setiap edisi memuat minimal lima artikel. Banyak jurnal gagal dalam proses akreditasi bukan karena kualitas konten, tetapi karena tidak mampu menjaga konsistensi jadwal penerbitan secara disiplin.
b. Kelengkapan standar wajib

Jurnal harus memenuhi berbagai standar administratif dan teknis yang wajib tersedia dalam sistem OJS, seperti memiliki E-ISSN sebagai identitas resmi, DOI pada setiap artikel untuk kemudahan pelacakan sitasi, serta pernyataan etika publikasi yang mengacu pada standar COPE. Selain itu, metadata artikel seperti judul, abstrak, kata kunci, dan informasi penulis harus diisi secara lengkap dan akurat agar mendukung indeksasi dan keterbacaan jurnal secara digital.
c. Manajemen workflow OJS

Pengelolaan alur kerja (workflow) dalam OJS harus berjalan secara sistematis dan transparan mulai dari tahap submission, review, editing, hingga publishing. Setiap tahapan harus terdokumentasi dengan baik dan melibatkan peran yang jelas dari tim editorial. Keberhasilan workflow ini sangat bergantung pada koordinasi yang solid antara tim editor dan tim teknis OJS, karena banyak jurnal pemula mengalami kendala pada aspek ini sehingga menghambat profesionalisme pengelolaan jurnal.
d. Kualitas teknis website OJS

Website jurnal merupakan wajah utama yang dinilai oleh asesor, sehingga kualitas teknisnya harus terjaga dengan baik. Situs harus stabil, aman dari gangguan seperti error atau peretasan, serta memiliki navigasi yang mudah dipahami oleh pengguna. Selain itu, tampilan template harus konsisten dan metadata artikel harus terisi dengan benar, karena aspek ini akan memengaruhi keterindeksan dan pengalaman pengguna dalam mengakses jurnal.
e. Tim pengelola yang profesional

Struktur organisasi pengelola jurnal harus jelas dan diisi oleh individu yang menjalankan perannya secara aktif, bukan sekadar formalitas. Minimal terdapat posisi Editor in Chief, Managing Editor, Section Editor, Reviewer, dan tim IT/OJS yang masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab yang terdefinisi dengan baik. Keaktifan dan profesionalisme tim ini menjadi indikator penting dalam menilai kualitas tata kelola jurnal secara keseluruhan.
f. Copyediting & proofreading

Tahap copyediting dan proofreading berperan penting dalam memastikan kualitas akhir artikel sebelum dipublikasikan. Artikel harus bebas dari kesalahan penulisan (typo), menggunakan bahasa akademik yang baik dan konsisten, serta mengikuti gaya selingkung jurnal. Kualitas bahasa yang baik tidak hanya meningkatkan keterbacaan, tetapi juga memberikan kesan profesional yang berdampak pada penilaian akreditasi.
g. Indexing & visibilitas

Upaya peningkatan visibilitas jurnal harus dilakukan melalui pendaftaran ke berbagai basis data pengindeks, dimulai dari Google Scholar dan Garuda sebagai tahap dasar. Jika jurnal telah memenuhi standar yang lebih tinggi, maka dapat dilanjutkan ke DOAJ untuk meningkatkan reputasi internasional. Semakin luas indeksasi yang dicapai, semakin besar peluang jurnal untuk mendapatkan sitasi dan meningkatkan skor dalam sistem akreditasi ARJUNA.

Tidak ada komentar: