12 POIN PENTING UNTUK JURNAL AGAR BISA MENCAPAI SINTA 1 & 2.

### 1. Fokus & Identitas Jurnal (Focus & Scope)

 Untuk mencapai level SINTA 2, jurnal harus memiliki fokus dan identitas yang jelas, spesifik, dan tidak terlalu luas. Jurnal perlu membatasi diri pada satu atau dua bidang superspesialisasi yang menjadi ciri khasnya, misalnya "Pendidikan Matematika Realistik Indonesia" atau "Psikologi Positif dalam Konteks Organisasi". Fokus ini harus secara eksplisit menyasar permasalahan lokal yang memiliki relevansi global, sehingga artikel yang diterbitkan menarik bagi pembaca internasional. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa jurnal yang dibina umumnya memiliki kelemahan pada kebijakan editorial yang terdokumentasi dengan lemah, sehingga penguatan fokus menjadi langkah awal yang krusial .

 Untuk level SINTA 1, fokus jurnal harus tidak hanya spesifik tetapi juga telah diakui secara internasional sebagai niche penting dalam bidang keilmuan. Jurnal harus mampu mengundang penulis-penulis ahli dari dalam dan luar negeri yang kompeten di bidang spesifik tersebut. Jurnal SINTA 1 idealnya telah memiliki jejaring penulis dan editor internasional yang kuat, dan fokusnya sering kali bersinggungan dengan isu-isu global yang sedang hangat (trending topics). Dengan demikian, identitas jurnal menjadi sangat kuat dan mudah dikenali, tidak bersaing dengan jurnal generalis, serta memenuhi standar internasional yang dipersyaratkan untuk indeksasi Scopus .

### 2. Kualitas Artikel Ilmiah

Pada level SINTA 2, setiap artikel wajib memiliki novelty (kebaruan), gap (celah penelitian), dan theoretical contribution (kontribusi teoretis) yang ditampilkan secara eksplisit di bagian pendahuluan (introduction). Artikel tidak boleh bersifat deskriptif semata, melainkan harus analitis-kritis serta menunjukkan bagaimana penelitian tersebut memajukan pengetahuan. Kualitas keterbacaan artikel juga menjadi perhatian utama, di mana hasil identifikasi menunjukkan bahwa salah satu kelemahan jurnal target binaan adalah rendahnya kualitas keterbacaan artikel .

 Untuk level SINTA 1, kualitas artikel harus setara dengan jurnal internasional bereputasi. Selain tiga elemen di atas (novelty, gap, kontribusi), artikel harus memiliki potensi sitasi yang tinggi dan metodologi penelitian yang mutakhir. Jurnal SINTA 1 biasanya telah memiliki rejection rate yang tinggi (di atas 60-70%) karena hanya artikel dengan kualitas terbaik yang diterbitkan. Tingkat orisinalitas dan orisinalitas artikel disesuaikan secara progresif dengan level jurnal, di mana SINTA 1 menuntut standar orisinalitas tertinggi .

### 3. Proses Peer-Review di OJS System

 Untuk level SINTA 2, proses peer-review harus menerapkan sistem double-blind secara konsisten dengan minimal dua reviewer per naskah. Setiap naskah harus melalui screening awal oleh editor, kemudian direview oleh reviewer yang bidang keahliannya sesuai. Seluruh proses harus terdokumentasi dengan baik di OJS, mulai dari assignment reviewer, komentar reviewer, hingga keputusan editorial. Untuk mencapai level ini, pengelola jurnal perlu memperkuat mekanisme peer-review, yang selama ini menjadi salah satu kelemahan jurnal target binaan .

 Untuk level SINTA 1, proses review tidak hanya kuantitas (jumlah reviewer) tetapi juga kualitas dan kecepatan. Jurnal idealnya memiliki turnaround time yang terukur (misalnya 4-8 minggu dari submission hingga keputusan akhir). Reviewer untuk SINTA 1 biasanya juga merupakan para ahli yang memiliki rekam jejak publikasi internasional (Scopus ID). Selain itu, proses review harus transparan dalam kebijakannya (misalnya menyediakan kebijakan anti-plagiarisme, retraction, dan correction), serta semua alur kerja (workflow) OJS harus terkonfigurasi dengan sempurna .

### 4. Kualitas Editor & Reviewer

 Untuk level SINTA 2, tim editor dan reviewer harus berasal dari minimal 4 negara dan 3 benua yang berbeda (Asia, Eropa, Amerika, Afrika). Namun, yang lebih penting adalah keterlibatan aktif mereka dalam sistem OJS, bukan hanya sebagai nama di website. Setiap editor dan reviewer harus memiliki digital ID (Scopus ID atau ORCID) yang menunjukkan rekam jejak keilmuan yang mumpuni. Penelitian menunjukkan bahwa jurnal target binaan masih memiliki keterbatasan dalam keragaman dewan editor dan reviewer, sehingga perekrutan internasional menjadi keharusan .

 Untuk level SINTA 1, keragaman editor dan reviewer harus lebih luas lagi, dengan proporsi editor internasional yang signifikan (misalnya 30-50% dari total editor). Mereka harus benar-benar terlibat dalam pengambilan keputusan editorial dan aktif melakukan review. Jurnal SINTA 1 biasanya juga memiliki editor-in-chief yang memiliki reputasi internasional dan telah terindeks Scopus. Selain itu, keberadaan section editor yang bertanggung jawab pada bidang spesifik juga menjadi nilai tambah yang membedakan SINTA 1 dari SINTA 2 .

### 5. Internasionalisasi

Untuk SINTA 2, target minimal adalah memiliki 5 penulis dari luar negeri dalam satu tahun (bisa sebagai first author atau co-author). Jurnal harus menampilkan author geographical coverage secara transparan di laman archive, misalnya dengan peta atau daftar negara asal penulis per edisi. Selain itu, jurnal juga harus menyediakan abstrak dalam bahasa Inggris yang panjang dan detail, serta idealnya 50% artikel yang terbit diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris . Hal ini penting karena jurnal target binaan umumnya semua penulisnya berasal dari dalam negeri.

Untuk SINTA 1, internasionalisasi harus lebih agresif. Target penulis luar negeri minimal 10-15 per tahun, dengan proporsi yang signifikan dari benua yang berbeda (bukan hanya Asia Tenggara). Jurnal SINTA 1 biasanya telah memiliki kerja sama formal dengan universitas atau asosiasi profesi internasional. Seluruh artikel full-text sebaiknya tersedia dalam bahasa Inggris, atau setidaknya memiliki versi bahasa Inggris yang lengkap. Jurnal juga harus secara aktif menjalin hubungan dengan akademisi internasional dan memfasilitasi kontribusi mereka, misalnya melalui special issue internasional .

### 6. Indeksasi & Reputasi

 Untuk SINTA 2, jurnal harus sudah terindeks di DOAJ (Directory of Open Access Journals) dan memiliki keanggotaan di CrossRef (DOI). Jurnal SINTA 2 yang baik biasanya juga sudah mendaftar ke Scopus dan sedang dalam proses evaluasi. Jurnal harus menghapus indeksasi yang dipertanyakan kredibilitasnya (questionable indexing) seperti ESJI, Journal Factor, atau DRJI karena dapat merusak reputasi. Laman khusus indexing & abstracting harus dibuat dan ditampilkan di sidebar website OJS .

 Untuk SINTA 1, jurnal WAJIB sudah terindeks di Scopus (minimal Q4) atau Web of Science (ESCI). Indeksasi Scopus menjadi faktor pembeda utama antara SINTA 1 dengan level di bawahnya . Jurnal SINTA 1 juga biasanya memiliki citation analysis yang kuat, dengan h-index yang tinggi serta jumlah sitasi per artikel yang signifikan. Jurnal harus aktif melakukan klaim sitasi dan memonitor performa metriknya secara berkala .

### 7. Konsistensi Penerbitan

Konsistensi penerbitan adalah prasyarat mutlak untuk akreditasi SINTA 2 maupun SINTA 1. Jurnal harus terbit tepat waktu sesuai jadwal (misalnya setiap Januari dan Juli). Tidak boleh ada "hutang terbitan" atau edisi yang terbit terlambat lebih dari 3 bulan dari jadwal. Konsistensi ini menunjukkan profesionalisme pengelolaan jurnal. Seperti ditegaskan dalam pelatihan menuju SINTA 1 dan 2, jurnal harus terbit secara periodik dan tidak boleh "kadang-kadang" karena akan mengurangi kredibilitas .

Untuk SINTA 1, selain tepat waktu, jurnal juga harus memiliki jumlah artikel per edisi yang relatif stabil (tidak fluktuatif drastis). Konsistensi juga mencakup keberlanjutan pengelolaan, di mana tim redaksi tidak boleh berganti secara massal dalam waktu singkat. Jurnal SINTA 1 biasanya telah menerbitkan minimal 12 edisi (atau 3-4 tahun) secara konsisten sebelum mencapai level ini. Hasil identifikasi terhadap jurnal binaan menunjukkan bahwa inkonsistensi jadwal terbitan merupakan salah satu kelemahan utama yang perlu diperbaiki .

### 8. Kelengkapan Standar Wajib Borang di Web OJS

 Kelengkapan standar wajib di "boring" atau menu navigasi website OJS meliputi: Focus and Scope, Author Guidelines, Peer Review Process, Publication Ethics, Plagiarism Policy, Author Fees (APC), Copyright Notice, Privacy Statement, dan Archiving Policy. Semua menu ini harus mudah diakses dari halaman depan jurnal. Ketidaklengkapan dokumentasi kebijakan dan etika publikasi merupakan kelemahan yang umum ditemukan pada jurnal target binaan menuju SINTA 2 .

Untuk SINTA 1, kelengkapan standar harus lebih rinci dan transparan. Misalnya, selain menu di atas, harus ada menu tentang Screening for Plagiarism (dengan menyebutkan software yang digunakan seperti Turnitin atau iThenticate), Retraction Policy, Conflict of Interest Policy, dan Complaint Policy. Jurnal SINTA 1 biasanya juga menyediakan laman Indexing & Abstracting yang lengkap serta laman Statistics (jumlah submissions, acceptance rate, dll). Semua kebijakan harus terdokumentasi dengan baik dan berlaku secara konsisten .

### 9. Manajemen Workflow OJS

Manajemen workflow di OJS untuk SINTA 2 harus sistematis dan terdokumentasi dengan baik. Mulai dari submission, assignment editor, peer-review (minimal dua reviewer), revision, copyediting, proofreading, hingga production/publication. Setiap status naskah harus jelas dan author dapat memantau progresnya. Penggunaan fitur OJS secara optimal (bukan sekadar sebagai tempat upload artikel) menjadi indikator penilaian. Pelatihan penggunaan OJS yang sistematis menjadi salah satu intervensi penting bagi jurnal target binaan .

Untuk SINTA 1, workflow harus berjalan dengan efisien dan memiliki mekanisme quality control di setiap tahap. Misalnya, setelah proofreading oleh author, harus ada final checking oleh editor production sebelum artikel diterbitkan secara online. Jurnal SINTA 1 biasanya juga memanfaatkan fitur advanced OJS seperti DOI registration otomatis melalui CrossRef, integrasi dengan plagiarism checker, serta penggunaan scheduling plugin untuk mengatur terbitan. Semua alur kerja harus terdokumentasi dalam kebijakan tertulis yang diakses publik .

### 10. Kualitas Teknis Website OJS

Kualitas teknis website OJS untuk SINTA 2 harus memenuhi standar: kecepatan loading yang baik, desain responsif (dapat diakses dari berbagai perangkat), navigasi yang mudah, dan sistem keamanan yang memadai (HTTPS). Website harus mudah ditemukan melalui mesin pencari. Metadata artikel (judul, abstrak, penulis, afiliasi, kata kunci) harus lengkap dan terpublikasi dengan baik. Jurnal yang masih menggunakan tampilan OJS default (klasik) dengan sedikit modifikasi masih dapat diterima di SINTA 2, asalkan fungsionalitasnya berjalan baik.

 Untuk SINTA 1, tampilan website harus lebih profesional dan modern. Biasanya jurnal SINTA 1 menggunakan OJS versi terbaru (3.x) dengan tema kustom yang menunjukkan identitas yang kuat. Website harus memiliki fitur advanced seperti metrics viewer (view dan download count per artikel), social media sharing buttons, dan integration dengan reference manager (Mendeley, Zotero). Kecepatan akses dan uptime website juga harus sangat baik karena jurnal SINTA 1 menjadi rujukan banyak peneliti. Penyajian metadata dan kualitas presentasi jurnal menjadi bagian dari penilaian akreditasi .

### 11. Copyediting & Proofreading

 Untuk SINTA 2, setiap artikel yang akan terbit harus melalui tahap copyediting (penyuntingan bahasa dan format) serta proofreading (pembacaan akhir oleh penulis atau editor). Bahasa yang digunakan harus mengikuti Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dengan baik, atau bahasa Inggris yang baik dan benar. Jurnal harus memiliki tim copyeditor yang kompeten, dan proses ini harus terdokumentasi di OJS. Kesalahan tata bahasa yang masih banyak ditemukan pada naskah akan mengurangi nilai akreditasi.

 Untuk SINTA 1, copyediting dan proofreading harus dilakukan oleh tenaga profesional, idealnya memiliki latar belakang kebahasaan atau pengalaman sebagai language editor untuk jurnal internasional. Untuk artikel berbahasa Inggris, sebaiknya menggunakan native English speaker sebagai proofreader. Jurnal SINTA 1 biasanya memiliki standard operating procedure (SOP) yang ketat untuk tahap ini, termasuk penggunaan checklist copyediting. Kualitas bahasa dan tata letak (layout) artikel harus rapi, konsisten, dan memenuhi standar jurnal internasional .

### 12. Indexing & Visibilitas

Untuk SINTA 2, visibilitas jurnal harus sudah melampaui tingkat nasional. Jurnal harus terdaftar di DOAJ, Google Scholar, Garuda (Garba Rujukan Digital), dan beberapa aggregator internasional lainnya seperti Dimensions atau Crossref. Jurnal juga harus secara aktif melakukan klaim sitasi dan memastikan setiap artikel memiliki DOI yang aktif. Laman indexing & abstracting harus ditampilkan di website jurnal sebagai bukti visibilitas. Jurnal SINTA 2 biasanya mulai terlihat di jurnal-jurnal internasional melalui proses cross-referencing .

Untuk SINTA 1, visibilitas harus bertaraf internasional dengan ditandai oleh indeksasi Scopus. Selain itu, jurnal SINTA 1 biasanya memiliki profil di Web of Science (ESCI) dan berbagai abstracting & indexing internasional lainnya seperti ERIC (untuk pendidikan), PubMed (untuk kesehatan), atau ACI (ASEAN Citation Index). Visibilitas juga diukur dari jumlah sitasi yang diterima oleh artikel-artikel jurnal tersebut dari berbagai negara. Indeksasi Scopus sangat krusial untuk meningkatkan visibilitas internasional dan reputasi institusi .

Tidak ada komentar: