A. Pendahuluan: Visi Besar PTKI
Perguruan Tinggi Keagamaan Islam
(PTKI) di Indonesia memiliki posisi strategis tidak hanya sebagai lembaga pendidikan,
tetapi juga sebagai pusat peradaban dan pencerahan (*center of excellence
and enlightenment*).
Di era globalisasi dan keterbukaan
informasi, publikasi ilmiah menjadi jembatan antara tradisi keilmuan Islam
klasik yang kaya akan manuskrip dan kajian sanad dengan tuntutan akademik
modern yang mengutamakan inovasi, keterbukaan, dan dampak global.
Sekretaris Direktorat Jenderal
Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Arskal Salim, menegaskan bahwa PTKI
harus menjadi pusat inspirasi dan solusi, bukan sekadar pusat keilmuan .
Namun, perjalanan menuju visi
tersebut tidak luput dari tantangan. Penelitian disertasi Parhan Hidayat di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta mengungkapkan adanya perbedaan perspektif antara
pemerintah dan PTKI. Pemerintah cenderung melihat publikasi ilmiah sebagai alat
untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain, sementara PTKI terkadang
menjadikannya sebagai ajang kompetisi dalam pemeringkatan. Ironisnya, bagi
sebagian dosen, publikasi ilmiah lebih dianggap sebagai formalitas
administratif semata . Tantangan lainnya adalah rendahnya kultur menulis yang
belum menjadi gaya hidup, gap sitasi akibat kurangnya visibilitas karya, serta
dampak penelitian yang terbatas hanya sebagai "penghuni rak
perpustakaan" dan tidak menjawab problem riil umat.
B. Pilar Utama Ekosistem Publikasi Berkelanjutan
1. Budaya Menulis: Dari Beban Menjadi Kebutuhan
Budaya menulis yang kokoh adalah fondasi utama ekosistem
publikasi. Membangun kebiasaan ini tidak bisa instan; ia harus ditanamkan
melalui pendekatan sistemik dan humanis.
Teori baru yang dirumuskan dalam disertasi Parhan Hidayat mendefinisikan publikasi ilmiah sebagai kebiasaan menghasilkan karya yang mampu meningkatkan rekognisi perguruan tinggi. Kebiasaan ini dapat tumbuh subur melalui sinergi antara kebijakan kampus yang mendukung (*supportive policies*), motivasi diri (*self-motivation*), dan integritas (*integrity*) .
Untuk mewujudkan hal tersebut, PTKI perlu melakukan beberapa
langkah strategis.
*Pertama*, literasi terintegrasi dengan memasukkan pelatihan
menulis artikel jurnal, opini, dan *policy brief* ke dalam kurikulum.
*Kedua*, mendorong riset kolaboratif berbasis klaster antara dosen senior, dosen yunior, dan mahasiswa. Penelitian menunjukkan bahwa dosen yang tergabung dalam kelompok riset cenderung lebih aktif dan produktif .
*Ketiga*, mendorong publikasi populer di media massa untuk membangun
kepercayaan diri penulis.
*Keempat*, membangun rutinitas menulis melalui program
seperti *writing retreat* atau *one day one paragraph*.
2. Budaya Sitasi: Etika dan Rekam Jejak Ilmiah
Sitasi adalah napas dari
keberlanjutan ilmu pengetahuan. Ia tidak hanya berfungsi sebagai indikator
kuantitatif seperti *h-index*, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab keilmuan
dan penghargaan terhadap karya orang lain sekaligus menghindari plagiarisme.
Di lingkungan PTKI, penguatan budaya
sitasi menghadapi tantangan spesifik seperti kebiasaan merujuk kitab kuning
tanpa konteks akademik modern serta keterbatasan akses terhadap jurnal ilmiah
terkini.
Oleh karena itu, penguatan manajemen
referensi menjadi krusial. Penggunaan aplikasi seperti Mendeley, Zotero, atau
EndNote harus dilatih secara masif. Jurnal-jurnal di lingkungan PTKI, seperti
Edumatika: Jurnal Riset Pendidikan Matematika, bahkan mewajibkan penggunaan
Mendeley dalam penulisan referensi dan mensyaratkan minimal 30 referensi dari
artikel jurnal .
Selain aspek teknis, yang tidak kalah
penting adalah upaya menjembatani khazanah klasik dan kontemporer. Dosen
didorong untuk mengontekstualisasikan pemikiran ulama klasik ke dalam isu-isu
kekinian dan merujuk pada jurnal ilmiah terkait sebagai pembanding.
3. Knowledge Impact: Dari Publikasi ke Solusi Nyata
*Knowledge impact* atau dampak keilmuan adalah ukuran sejauh mana publikasi
mampu mengubah cara pandang, kebijakan, atau praktik di masyarakat.
Publikasi yang berdampak tidak berhenti setelah artikel
terbit di jurnal bereputasi; ia harus didiseminasikan dan diimplementasikan.
Monitoring dan Evaluasi (MONEV) yang dilakukan oleh Ditjen Pendidikan Islam
Kemenag di berbagai PTKI, seperti di STAI Kuningan, menekankan bahwa kegiatan
pengabdian kepada masyarakat harus diarahkan agar memiliki dampak langsung dan
berkelanjutan, sesuai dengan kebutuhan Masyarakat.
Untuk mencapai dampak yang nyata, penelitian harus diarahkan
pada isu-isu strategis berbasis masalah (*problem-focused research*)
seperti moderasi beragama, kerukunan umat, ekonomi syariah, hingga eco-theology—sebuah
inovasi yang mengintegrasikan spiritualitas Islam dengan isu lingkungan . Hasil
riset juga harus didiseminasikan ke publik melalui media sosial, seminar, atau
workshop, serta melibatkan *stakeholder* seperti Kementerian Agama dan ormas Islam
sejak perencanaan riset.
C. Prestasi dan Strategi Implementasi di PTKI
Langkah membangun ekosistem publikasi berkelanjutan di PTKI
bukanlah hal yang mustahil. Data terbaru menunjukkan capaian membanggakan:
tercatat
**41 jurnal PTKI telah terindeks Scopus**.
Dari jumlah tersebut, 37 jurnal berada pada kuartil Q1, yang
berarti menempati 25% teratas jurnal terbaik di bidangnya secara global.
Jurnal-jurnal ini tidak hanya menjadi wadah publikasi bagi akademisi Indonesia,
tetapi juga menjadi rujukan peneliti internasional dalam kajian Islam dan hukum
Islam, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat studi Islam di Asia Tenggara.
Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi implementasi yang sistematis.
Pada **Fase Penguatan Fondasi Internal**, PTKI perlu merevisi kebijakan dengan menjadikan publikasi sebagai syarat kenaikan jabatan fungsional dan kelulusan mahasiswa pascasarjana, serta membentuk pusat penulisan (*writing center*).
Pada **Fase Pengembangan Jaringan dan Reputasi**, kolaborasi antar-PTKI menjadi kunci. Contoh nyata adalah kerja sama antara UIN Raden Mas Said Surakarta dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh dalam memperkuat tata kelola jurnal menuju reputasi internasional dengan saling berbagi praktik baik manajemen editorial dan publikasi berstandar etika internasional .
Pada **Fase
Optimalisasi Dampak**, setiap fakultas didorong menghasilkan *policy brief*
dari hasil riset untuk diserahkan kepada pembuat kebijakan.
D. Indikator Keberhasilan
Keberhasilan ekosistem ini dapat diukur melalui beberapa indikator.
Pada tingkat **input**, terjadi peningkatan jumlah proposal riset kolaboratif.
Pada tingkat **proses**, terjadi peningkatan partisipasi dalam pelatihan menulis dan penggunaan Mendeley/Zotero.
Pada tingkat **output**, terjadi peningkatan jumlah publikasi di jurnal terindeks SINTA dan Scopus.
Pada tingkat **outcome**, terjadi peningkatan jumlah sitasi lintas PTKI.
Pada
tingkat **impact**, dihasilkannya kebijakan publik di bidang keagamaan yang
merujuk pada riset PTKI atau meningkatnya literasi keagamaan moderat di
masyarakat. Semua indikator ini pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan
peringkat institusi dalam pemeringkatan nasional seperti SINTA, yang saat ini
menjadi dasar penilaian klasterisasi perguruan tinggi .
E. Penutup
Membangun ekosistem publikasi berkelanjutan di PTKI adalah
investasi jangka panjang untuk menghidupkan kembali semangat ijtihad dan
tradisi intelektual Islam. Humas PTKIN, sebagai jantung komunikasi strategis
kampus, memiliki peran penting dalam mengglorifikasi prestasi riset dan
publikasi dosen . Dengan budaya menulis yang kokoh, etika sitasi yang kuat,
fokus pada dampak keilmuan, serta integritas yang dijunjung tinggi, PTKI akan
menjelma menjadi mercusuar peradaban. Publikasi ilmiah tidak lagi sekadar formalitas,
melainkan bagian penting dari wajah intelektual dan daya saing bangsa,
membuktikan bahwa dari garis ekuator, Indonesia mampu menerangi dunia dengan
cahaya ilmu pengetahuan .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar