Halaman

▼

9 Langkah Pembuatan OJS Jurnal Baru dari Nol hingga Terakreditasi Nasional dan Terindeks Internasional

 

9 Langkah Pembuatan OJS Jurnal Baru dari Nol hingga Terakreditasi Nasional dan Terindeks Internasional

Berikut adalah roadmap singkat perjalanan membangun dan mengembangkan jurnal ilmiah dari nol hingga mencapai akreditasi nasional dan internasionalisasi.

1. Menentukan Nama dan Fokus Jurnal

Langkah awal yang sangat penting adalah menentukan nama jurnal serta focus and scope (fokus dan cakupan) jurnal.

Nama jurnal sebaiknya spesifik dan mencerminkan bidang keilmuan yang menjadi fokus utama. Contohnya adalah Indonesian Journal of Islamic Communication atau Journal of English Language Teaching.

Hindari penggunaan nama “International Journal of...” apabila jurnal belum memiliki karakteristik dan jejaring internasional yang memadai. Untuk jurnal baru, sebaiknya gunakan nama yang mencerminkan cakupan nasional terlebih dahulu, kecuali jurnal tersebut memiliki karakteristik seperti:

  • seluruh atau mayoritas artikel menggunakan bahasa Inggris;
  • sebagian besar editor dan reviewer berasal dari minimal tiga negara berbeda; dan
  • jurnal memiliki cakupan keilmuan global serta jejaring internasional yang nyata.

2. Menentukan Penerbit (Publisher)

Publisher adalah badan atau institusi yang bertanggung jawab atas penerbitan jurnal. Penerbit dapat berupa institusi pendidikan, seperti perguruan tinggi, maupun lembaga nonperguruan tinggi, seperti CV, PT, yayasan, atau organisasi lainnya.

Untuk aspek legalitas dan profesionalitas, penerbit nonperguruan tinggi sebaiknya memiliki badan hukum yang jelas, misalnya CV atau PT, sebelum menerbitkan jurnal secara resmi.

3. Membentuk Tim Pengelola Jurnal

Pengelolaan jurnal membutuhkan setidaknya dua kelompok utama, yaitu tim editorial dan tim teknis/IT.

Tim editorial dapat terdiri atas Editor-in-Chief, Managing Editor, Section Editors, Copy Editors, Proofreaders, dan Reviewers/Mitra Bestari. Sementara itu, tim teknis/IT bertugas mengelola sistem OJS (Open Journal Systems), memelihara situs web, mengunggah artikel, mengatur metadata, serta menangani berbagai kebutuhan teknis lainnya.

Seluruh pengelola jurnal perlu memahami prinsip etika publikasi ilmiah, proses peer review, dan tata kelola jurnal yang baik.

Tutorial pengelolaan jurnal dari proses submission hingga publication dapat dilihat di:
Tutorial Pengelolaan Jurnal dari Submit hingga Publish

4. Membuat Website Jurnal Berbasis OJS

Jurnal ilmiah yang menggunakan OJS memerlukan situs web khusus untuk mengelola seluruh proses penerbitan secara daring, mulai dari pengiriman artikel, peer review, penyuntingan, hingga publikasi.

Untuk membangun website jurnal, diperlukan domain dan hosting yang dapat disewa dari penyedia layanan hosting, seperti Rumahweb, Niagahoster, dan penyedia lainnya.

Sebagai tahap awal, paket hosting dengan kapasitas yang memadai dapat digunakan. Ketika jumlah artikel, pengunjung, dan kebutuhan penyimpanan meningkat, kapasitas hosting dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan.

Contoh tutorial pemesanan domain dan hosting melalui Rumahweb dapat dilihat di:
Tutorial Memesan Domain dan Hosting melalui Rumahweb

5. Membuka Call for Papers serta Rekrutmen Editor dan Reviewer

Setelah website jurnal siap, langkah berikutnya adalah membuka Call for Papers (CFP) untuk mengundang akademisi dan peneliti mengirimkan artikel ilmiah.

Informasi CFP dapat disebarluaskan melalui media sosial, mailing list, forum akademik, grup keilmuan, dan website jurnal.

Contoh Call for Papers JOLCC:
Call for Papers JOLCC

Selain CFP, jurnal juga perlu merekrut editor dan reviewer/mitra bestari. Rekrutmen dapat dilakukan secara terbuka melalui pengumuman atau dengan menghubungi akademisi yang memiliki kepakaran sesuai bidang jurnal.

Contoh Call for Editors & Reviewers JOLCC:
Call for Editors & Reviewers JOLCC

6. Menerbitkan Edisi Perdana

Setelah sistem OJS berjalan dan artikel telah melalui proses editorial serta peer review, jurnal dapat menerbitkan edisi perdana sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Setelah jurnal memenuhi persyaratan penerbitan, pengelola dapat mengajukan E-ISSN melalui BRIN pada laman berikut:

Pendaftaran ISSN BRIN

Untuk proses akreditasi jurnal nasional melalui ARJUNA/SINTA, E-ISSN menjadi salah satu identitas penting jurnal. Persyaratan ISSN dan akreditasi perlu selalu disesuaikan dengan ketentuan resmi terbaru.

7. Mengurus DOI (Digital Object Identifier)

DOI (Digital Object Identifier) berfungsi sebagai identitas digital permanen bagi artikel ilmiah sehingga artikel lebih mudah ditemukan, diidentifikasi, dan disitasi.

Pengelola jurnal dapat menggunakan layanan DOI melalui Relawan Jurnal Indonesia (RJI):

Layanan DOI Relawan Jurnal Indonesia

Setelah DOI diperoleh, setiap artikel yang diterbitkan perlu diberikan DOI dan metadata yang sesuai. Proses ini membutuhkan pengelolaan teknis OJS yang baik agar DOI dapat terhubung dengan artikel dan metadata secara benar.

8. Mendaftarkan Jurnal ke Berbagai Indeksasi

Agar jurnal memiliki visibilitas, jangkauan, dan kredibilitas yang lebih luas, pengelola dapat mendaftarkan jurnal ke berbagai layanan pengindeks nasional maupun internasional.

Beberapa layanan pengindeks dan academic discovery services yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • Google Scholar
  • GARUDA
  • Dimensions
  • Scilit
  • Paperity
  • DOAJ
  • Crossref
  • ROAD
  • WorldCat

Untuk menuju akreditasi SINTA, jurnal perlu memenuhi persyaratan dan ketentuan yang ditetapkan dalam sistem ARJUNA. Salah satu aspek penting adalah konsistensi penerbitan dan kualitas tata kelola jurnal.

9. Menuju Akreditasi Nasional dan Internasionalisasi

Setelah jurnal memiliki tata kelola yang stabil, langkah berikutnya adalah meningkatkan kualitas jurnal menuju akreditasi nasional melalui ARJUNA/SINTA dan selanjutnya menuju internasionalisasi.

Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan antara lain:

  • menerapkan etika publikasi ilmiah dan prinsip-prinsip COPE;
  • memiliki DOI dan metadata yang dikelola dengan baik;
  • terindeks pada layanan yang relevan, termasuk GARUDA;
  • menerbitkan jurnal secara konsisten sesuai jadwal;
  • meningkatkan kualitas artikel dan proses peer review;
  • membangun jejaring editor dan reviewer internasional;
  • meningkatkan kontribusi penulis dari berbagai negara;
  • memperluas kolaborasi akademik lintas negara; dan
  • menggunakan bahasa Inggris secara konsisten apabila menargetkan pembaca dan indeksasi internasional.

Untuk membaca referensi mengenai tata kelola, akreditasi, dan internasionalisasi jurnal, silakan kunjungi:

7 Jurus Tata Kelola Jurnal Menuju Internasionalisasi

Intinya, membangun jurnal ilmiah bukan hanya sekadar membuat website OJS. Jurnal perlu dibangun melalui tahapan yang sistematis, mulai dari penentuan identitas dan scope, pembentukan tim pengelola, pembangunan OJS, penerbitan artikel, pengurusan ISSN dan DOI, pengindeksan, hingga peningkatan kualitas tata kelola untuk mencapai akreditasi nasional dan internasionalisasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar